Wajah seri yang memukau
Pesona kau dipandang
Tersenyum dan terkhayal sejenak
Matamu gemilang
Bagaikan ada syurga
Di dalamnya
Aku ingin bersama
Memilik sebuah kota
Bersamamu aku diyakinkan
Ku berada di tengah-tengah
Persimpangan tak ke mana
Bawalah ku pergi
Ke mana saja
Bawalah ku lari
Dari sengsara
Manalah berhenti
Di situ terhenti
Mana kembara terselit kita
Capai tanganku
Kita berganding berdua
Genggam tanganku kita nyanyikan
Lagu yang seirama
TEKNOLOGI MAKLUMAT
Thursday, 13 June 2013
Tuesday, 14 May 2013
Empat Dara Duduk Di Tepi Sungai
Duduk Menjerat Si Ketamlah Batu
Manis Rupa Hai Elok Perangai
Sukar Dipilih Yang Manalah Satu
Empat Dara Berpakaian Sedondon
Berbaju Putih Berkainlah Biru
Pandai Mengarang Seloka Dan Pantun
Hitam Manis Hai PandanglahTak Jemu
[ Empat Dara lyrics found on
http://lyrics.my/ ]
Empat Dara Duduk Di Tepi Sungai
Duduk Menjerat Si Ketamlah Batu
Manis Rupa Hai Elok Perangai
Sukar Dipilih Yang Manalah Satu
Empat Dara Hai Denganlah Lagaknya
Bersiar-siar Sekeliling Kota
Sekali Pandang Senyuman Manisnya
Tak Mungkin Lupa Sepanjanglah Masa
Monday, 6 May 2013
PENTINGNYA SILATURAHIM
Allah berfirman yang artinya:
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Q.S. al-Isra`: 26)
Dalam firman lain menyatakan:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat ibn sabil…” (Q.S. an-Nisa`: 36)
Di sini kedudukan berbuat baik pada kerabat dekat berada pada urutan setelah berbakti kepada orang tua. Al-Quran telah menentukannya secara berurutan dimulai dari yang paling tinggi sampai paling rendah dalam tahapan hubungan kemanusian. Setelah kerabat dekat, lalu meluas cakupannya sampai kepada setiap orang yang memerlukannya dalam masyarakat. Ini sesuai dengan sifat manusia yang lebih cenderung berbuat baik kepada kerabat dekat. Ini juga sesuai dengan metode umum Islam dalam mengatur masyarakat muslim. Dimana tanggung jawab sosial dimulai dari lingkup keluarga, lalu meluas kepada kerabat dekat. Akhirnya mencakup semua kelompok manusia. Semuanya dilaksanakan dengan penuh kasih sayang dan ketulusan. Sehingga, hidup ini terasa manis, indah, dan layak di nikmati oleh manusia.
Silaturrahim termasuk metode dan asas Islami utama yang dibawa Islam ke dunia semenjak hari pertama Rasulullah memulai dakwah secara terbuka. Rasulullah telah menerangkan dasar-dasar Islam dan tanda-tandanya. Ternyata, silaturrahim termasuk tanda yang sangat jelas dalam sariat Islam. Sebagai bukti, adalah pembicaraan panjang Abu Sufyan r.a dengan Heraclius ketika ia bertanya kepadanya “apa yang diperintahkan oleh Nabi kalian?” Abu Sufyan menjawab: “Sembahlah Allah, jangan kalian menyekutukanNya dengan sesuatupun, tinggalkan apa yang dikatakan nenek monyangmu, menyuruh kami untuk melaksanakan shalat, jujur, meninggalkan perbuatan yang buruk, dan menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Silaturrahim merupakan bagian dari tanda-tanda yang agung dari agama Islam; (yaitu) mentauhidkan Allah, mendirikan shalat, berpegang teguh pada sifat jujur, dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Karena itu, silaturrahim merupakan keistimewaan nyata yang ditampakkan kepada orang-orang yang untuk pertama kalinya bertanya tentang Islam.
Dalam sebuah hadis yang menerangkan asas-asas dan prilaku Islami, Amr ibn `anbasah r.a berkata:
“Saya datang kepada Rasulullah Saw, di Mekkah pada awal keNabian. Aku berkata kepada beliau: “Siapa kamu?” beliau berkata: “Nabi.” saya bertanya: “Apa Nabi itu?” beliau bersabda: “saya diutus oleh Allah” aku bertanya lagi: “Dengan apa kamu diutus?” beliau bersabda: “Allah mengutusku dengan silaturrahim, menghancurkan berhala, mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.” (H.R. Muslim)
Dalam hadis di atas, jelas sekali bahwa Rasulullah Saw, mengedepankan silaturrahim dalam memberikan penjelasan singkat tentang dasar-dasar Islam. Ini merupakan sebuah isyarat bahwa silaturrahim memiliki kedudukan penting dalam Islam, agama yang diturunkan sebagai rahmat untuk alam semesta.
Banyak nash-nash yang menganjurkan silaturrahim dan sekaligus mengancam orang yang memutuskannya. Diriwatkan oleh Abu Ayyub Al-Anshari. Bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Saw:
“Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku sebuah amal perbuatan yang bisa memasukkan aku kesurga?” Nabi bersabda: “Hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya, melaksanakan shalat, membayar zakat, dan menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Silaturrahim disebutkan bersamaan dengan ibadah dan mentauhidkan Allah, pelaksanaan shalat, dan membayar zakat. Dengan demikian, silaturrahim termasuk amal shaleh yang menjamin seseorang masuk surga dan melindunginya dari api neraka. Diriwayatkan dari Anas r.a, bahwa Rasulullah Saw, bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Ternyata, silaturrahim membawa keberkahan dalam rezeki dan umur seseorang yang suka menyambungnya. Ibnu Umar r.a berkata: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, akan dipanjangkan umurnya, diperluas rezekinya, dan dicintai oleh keluarganya.” (H.R. Bukhari)
Orang yang suka menyambung silaturrahim akan mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan bertambah umurnya. Rahmat Allah akan senantiasa tercurah kepadanya di dunia dan di akhirat. Ia akan dicintai oleh manusia dan dihormati. Sebaliknya, orang yang suka memutuskan tali silaturrahim akan mendapatkan kesengsaraan, bencana, dan kebencian dari Allah dan manusia. Di akhirat nanti, ia akan dijauhkan dari surga.
Cukuplah bagi orang yang memutuskan tali silaturrahim merasakan kesengsaraan dan bencana apabila mendengar sabda Rasulullah Saw: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Rahmat Allah tidak akan tercurahkan kepada sebuah kaum yang di dalamnya ada orang yang suka memutuskan tali silaturrahim. Seperti disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya Syu`abu al-Iman: “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan dicurahkan pada sebuah kaum yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturrahim”
Oleh karena itu, Abu Hurairah r.a, tidak mau berdo`a disebuah tempat yang didalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturrahim. Karena akan menjadi penghalang turunnya rahmat dan dikabulkannya do`a. Abu Hurairah berkata di sebuah tempat pada malam jumat: “Saya dengan paksa menyuruh orang yang memutuskan tali silaturrahim untuk meninggalkan kami.”
Tidak seorangpun berdiri sampai beliau mengatakan itu tiga kali. Setelah itu, ada seorang pemuda datang pada bibinya yang sudah dua tahun tidak pernah dikunjungi. Bibinya berkata kepadanya:
“Wahai keponakanku, apa yang membawa kamu kesini?” Ia berkata: “ Saya mendengar Abu Hurairah r.a berkata begini-begini.” Bibinya berkata, “saya mendengar Rasulullah Saw, bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan anak adam itu diperlihatkan kepada Allah setiap malam jumat, dan amal perbuatan orang yang memutuskan tali silaturrahim tidak diterima oleh Allah.” (H.R. Bukhari)
Seorang muslim memiliki perasaan halus dan senantisa mencari keridhaan Tuhan dan keselamatan diakhirat. Ia akan tergugah hatinya apabila mengetahui bahwa memutuskan silaturrahim akan menutupi turunnya rahmat, doa tidak dikabulkan, dan menggagalkan pahala sebuah pekerjaan. Sungguh suatu bencana besar bagi orang yang berdoa kemudian tidak dikabulkan. Beramal tetapi tidak diterima disisi Allah. Dan, mengharap rahmat Tuhan tapi rahmat itu menjauhinya. Karena itu tidak terbayang sama sekali bahwa suatu saat seorang muslim sejati akan memutuskan tali silaturrahim.
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Q.S. al-Isra`: 26)
Dalam firman lain menyatakan:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat ibn sabil…” (Q.S. an-Nisa`: 36)
Di sini kedudukan berbuat baik pada kerabat dekat berada pada urutan setelah berbakti kepada orang tua. Al-Quran telah menentukannya secara berurutan dimulai dari yang paling tinggi sampai paling rendah dalam tahapan hubungan kemanusian. Setelah kerabat dekat, lalu meluas cakupannya sampai kepada setiap orang yang memerlukannya dalam masyarakat. Ini sesuai dengan sifat manusia yang lebih cenderung berbuat baik kepada kerabat dekat. Ini juga sesuai dengan metode umum Islam dalam mengatur masyarakat muslim. Dimana tanggung jawab sosial dimulai dari lingkup keluarga, lalu meluas kepada kerabat dekat. Akhirnya mencakup semua kelompok manusia. Semuanya dilaksanakan dengan penuh kasih sayang dan ketulusan. Sehingga, hidup ini terasa manis, indah, dan layak di nikmati oleh manusia.
Silaturrahim termasuk metode dan asas Islami utama yang dibawa Islam ke dunia semenjak hari pertama Rasulullah memulai dakwah secara terbuka. Rasulullah telah menerangkan dasar-dasar Islam dan tanda-tandanya. Ternyata, silaturrahim termasuk tanda yang sangat jelas dalam sariat Islam. Sebagai bukti, adalah pembicaraan panjang Abu Sufyan r.a dengan Heraclius ketika ia bertanya kepadanya “apa yang diperintahkan oleh Nabi kalian?” Abu Sufyan menjawab: “Sembahlah Allah, jangan kalian menyekutukanNya dengan sesuatupun, tinggalkan apa yang dikatakan nenek monyangmu, menyuruh kami untuk melaksanakan shalat, jujur, meninggalkan perbuatan yang buruk, dan menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Silaturrahim merupakan bagian dari tanda-tanda yang agung dari agama Islam; (yaitu) mentauhidkan Allah, mendirikan shalat, berpegang teguh pada sifat jujur, dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Karena itu, silaturrahim merupakan keistimewaan nyata yang ditampakkan kepada orang-orang yang untuk pertama kalinya bertanya tentang Islam.
Dalam sebuah hadis yang menerangkan asas-asas dan prilaku Islami, Amr ibn `anbasah r.a berkata:
“Saya datang kepada Rasulullah Saw, di Mekkah pada awal keNabian. Aku berkata kepada beliau: “Siapa kamu?” beliau berkata: “Nabi.” saya bertanya: “Apa Nabi itu?” beliau bersabda: “saya diutus oleh Allah” aku bertanya lagi: “Dengan apa kamu diutus?” beliau bersabda: “Allah mengutusku dengan silaturrahim, menghancurkan berhala, mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.” (H.R. Muslim)
Dalam hadis di atas, jelas sekali bahwa Rasulullah Saw, mengedepankan silaturrahim dalam memberikan penjelasan singkat tentang dasar-dasar Islam. Ini merupakan sebuah isyarat bahwa silaturrahim memiliki kedudukan penting dalam Islam, agama yang diturunkan sebagai rahmat untuk alam semesta.
Banyak nash-nash yang menganjurkan silaturrahim dan sekaligus mengancam orang yang memutuskannya. Diriwatkan oleh Abu Ayyub Al-Anshari. Bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Saw:
“Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku sebuah amal perbuatan yang bisa memasukkan aku kesurga?” Nabi bersabda: “Hendaklah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya, melaksanakan shalat, membayar zakat, dan menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Silaturrahim disebutkan bersamaan dengan ibadah dan mentauhidkan Allah, pelaksanaan shalat, dan membayar zakat. Dengan demikian, silaturrahim termasuk amal shaleh yang menjamin seseorang masuk surga dan melindunginya dari api neraka. Diriwayatkan dari Anas r.a, bahwa Rasulullah Saw, bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Ternyata, silaturrahim membawa keberkahan dalam rezeki dan umur seseorang yang suka menyambungnya. Ibnu Umar r.a berkata: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, akan dipanjangkan umurnya, diperluas rezekinya, dan dicintai oleh keluarganya.” (H.R. Bukhari)
Orang yang suka menyambung silaturrahim akan mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan bertambah umurnya. Rahmat Allah akan senantiasa tercurah kepadanya di dunia dan di akhirat. Ia akan dicintai oleh manusia dan dihormati. Sebaliknya, orang yang suka memutuskan tali silaturrahim akan mendapatkan kesengsaraan, bencana, dan kebencian dari Allah dan manusia. Di akhirat nanti, ia akan dijauhkan dari surga.
Cukuplah bagi orang yang memutuskan tali silaturrahim merasakan kesengsaraan dan bencana apabila mendengar sabda Rasulullah Saw: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahim.” (H.R. Muttafaqun alaihi)
Rahmat Allah tidak akan tercurahkan kepada sebuah kaum yang di dalamnya ada orang yang suka memutuskan tali silaturrahim. Seperti disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya Syu`abu al-Iman: “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan dicurahkan pada sebuah kaum yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturrahim”
Oleh karena itu, Abu Hurairah r.a, tidak mau berdo`a disebuah tempat yang didalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturrahim. Karena akan menjadi penghalang turunnya rahmat dan dikabulkannya do`a. Abu Hurairah berkata di sebuah tempat pada malam jumat: “Saya dengan paksa menyuruh orang yang memutuskan tali silaturrahim untuk meninggalkan kami.”
Tidak seorangpun berdiri sampai beliau mengatakan itu tiga kali. Setelah itu, ada seorang pemuda datang pada bibinya yang sudah dua tahun tidak pernah dikunjungi. Bibinya berkata kepadanya:
“Wahai keponakanku, apa yang membawa kamu kesini?” Ia berkata: “ Saya mendengar Abu Hurairah r.a berkata begini-begini.” Bibinya berkata, “saya mendengar Rasulullah Saw, bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan anak adam itu diperlihatkan kepada Allah setiap malam jumat, dan amal perbuatan orang yang memutuskan tali silaturrahim tidak diterima oleh Allah.” (H.R. Bukhari)
Seorang muslim memiliki perasaan halus dan senantisa mencari keridhaan Tuhan dan keselamatan diakhirat. Ia akan tergugah hatinya apabila mengetahui bahwa memutuskan silaturrahim akan menutupi turunnya rahmat, doa tidak dikabulkan, dan menggagalkan pahala sebuah pekerjaan. Sungguh suatu bencana besar bagi orang yang berdoa kemudian tidak dikabulkan. Beramal tetapi tidak diterima disisi Allah. Dan, mengharap rahmat Tuhan tapi rahmat itu menjauhinya. Karena itu tidak terbayang sama sekali bahwa suatu saat seorang muslim sejati akan memutuskan tali silaturrahim.
Peribahasa
Menurut Za'ba, peribahasa ialah susunan kata yang pendek dengan makna yang
luas, mengandungi kebenaran, sedap didengar dan bijak perkataannya.
Terdapat pihak yang mengklasifikasikan peribahasa seperti berikut:
a, Peribahasa selapis yang terdiri daripada pepatah,
bidalan dan perbilangan (pepatah).
b. Peribahasa berlapis, iaitu perumpamaan
c. Lidah pendeta
Namun ada juga yang membahagikan peribahasa seperti berikut:
- Simpulan bahasa
- Perumpamaan
- Bidalan
- Pepatah atau Perbilangan
Bukan Peribahasa:
- Kiasan
- Metafora
Simpulan Bahasa
Simpulan bahasa merupakan ungkapan yang telah mantap dan mempunyai maksud
yang khusus.
Ia mempunyai maksud yang berbeza daripada makna harfiah kata-kata dalam
ungkapan.
Contoh:
|
Simpulan Bahasa
|
Maksud
|
|
Panjang tangan
|
Suka
mencuri
|
|
Periuk
nasi
|
Punca
pencarian
|
|
Buruk siku
|
sudah
diberi, diambil balik
|
|
Ikat perut
|
Berjimat
makan dan minum
|
|
Kaki
bangku
|
Tidak tahu
bermain misalnya bola.
|
Menurut Za'aba, terhasilnya simpulan bahasa adalah dengan berdasarkan empat
perkara iaitu:
(a) Daripada perbandingan atau kiasan dengan cerita yang masyhur.
Contoh: Abu Jahal, Mat Jenin, Lebai Malang dan
sebagainya.
(b) Daripada benda atau kejadian yang berlaku di sekelilingnya.
Contoh: mandi kerbau, mata duitan, kutu embun dan
sebagainya.
(c) Daripada kepercayaan orang ramai
Contoh: harimau berantai, buruk siku, dimakan
bulan dan sebagainya.
(d) Daripada kebiasaan atau resaman bahasa.
Contoh: ada hati, gila bahasa, beri muka dan
sebagainya.
Perumpamaan
Perumpaan tergolong dalam peribahasa berlapis, iaitu mengandungi makna
tersurat dan tersirat.
Terdapat dua bentuk perumpamaan, iaitu yang menyatakan perbandingan secara
terang-teragnan dan yang tidak menyatakan perbandingan secara terang-terangan.
Perumpamaan yang menyatakan perbandingan secara terang-teranan didahului
dengan kata-kata perbandingan seperti, umpama, bagai, laksana, ibarat dan baik;
manakala perumpamaan yang tidak disebutkan perbandingan tidak didahului
kata-kata perbandingan tersebut.
Contoh perumpaan yang disebut perbandingan
a. seperti katak di bawah tempurung
b. umpama kaca dengan permata
c. Bagai pungguk rindukan bulan
d. Ibarat air di daun keladi
e. laksana katak diharung ular.
Contoh perumpamaan yang tidak disebut perbandingan
a. Genggam bara api biar sampai jadi arang
b. Diberi betis hendak peha
c. Sehari selembar benang, lama-lama menjadi kain.
Bidalan
Bidalan ialah peribasaha yang berfungsi sebagai nasihat seperti perumpaan,
bidalan juga mempunyai maksud dua lapis.
Bagaimanapun bdalan tidak didahului oleh kata sendi nama seperti, bagai,
laksana dan umpama.
Perbezaan antara bidalan dengan pepatah ialah bidalan lebih kerap
diguanakan, mempunyai nilai, ilmu dan pengajaran, sedangkan pepatah lebih
ringkas sifatnya dan tidak mempunyai pengajaran.
Contoh bidalan:
|
Malu
berkayuh perahu hanyut, malu bertanya sesat jalan
|
|
Jika kail
panjang sejengkal, lautan dalam jangan diduga.
Maksud
lapis pertama jelas dan maksud lapis kedua merujuk orang yangs edikit ilmu
dan pengalaman supaya tidak mencuba sesuatu yang rumit.
|
|
Terlajak
perahu boleh diundur, terlajak kata buruk padahnya.
|
|
Hujan emas di negeri orang,
hujan batu
di negeri sendiri,
Baik juga
negeri sendiri.
|
|
Sesat di
hujung jalan, balik ke pangkal jalan.
|
|
Jikalau
beranak, ikut kata bidan.
|
Pepatah atau Perbilangan
Pepatah atau perbilangan mempunyai struktur yang hampir sama dengan pepatah
dan bidalan melainkan perbilangan disusun berangkap-rangkap seperti ikatan
puisi.
Setiap rangkai pepatah terdiri daripada dua baris atau lebih dan disebut
satu demi satu seolah-olah orang sedang membuat perbilangan atau perkataan.
Ia berkait rapat dengan adat istiadat, undang-undang atau peraturan
masyarakat.
Contoh
|
Bulat air
kerana pembentung, bulat manusia kerana muafakat
|
|
Hati
manusia sama dicecah, hati gajah sama dilapah.
|
|
Cubit paha
iri, paha kanan sakit juga.
|
|
Ditelan
mati emak, diluah mati bapak.
|
Saturday, 4 May 2013
KOMPUTER DALAM PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN
PengenalanKomputer adalah alat elektronik yang kompleks dan mempunyai banyak kelebihan. Ia sesuai untuk dijadikan alat bagi membantu guru dalam proses pengajaran dan pembelajaran kerana ia berkemampuan menerima dan memproses data. Komputer juga membantu pengajar mencapai objektif pengajaran dan pembelajaran yang berkesan jika digunakan dengan sistematik. Pengajaran yang disertakan dengan alat bantu mengajar terkini akan dapat menambah minat pelajar mempelajari sesuatu bidang pelajaran. Di samping itu, jika komputer dapat digunakan secara sistematik dan berkesan oleh guru, ia mampu menyelesaikan sebarang masalah pengajaran dan pembelajaran. Ini selaras dengan pandangan Heinich (1996) yang menyatakan bahawa komputer dapat memperkayakan teknik pengajaran. Menurut Merrill (1986) pula, komputer adalah mesin memproses maklumat yang perlu diberikan arahan oleh penggunanya. Arahan ini boleh disampaikan menerusi peralatan input seperti papan kekunci, pengimbas (scanner), kad, joystick, tetikus, pad grafik dan unit pemprosesan pusat (CPU). Heinich (1996) menyatakan komputer berkemampuan mengawal dan mengurus bahan pengajaran yang banyak. Kemampuan komputer berinteraksi dengan pengguna membolehkan pengajar-pengajar menerapkan pengajaran dan pembelajaran secara lebih mudah serta menarik. Bitter (1989) pula menyatakan komputer boleh bekerja pantas serta beroperasi 24 jam tanpa berhenti dan maklumat yang dikeluarkannya dengan tepat. Penggunaan komputer ini ada hubungkaitnya dengan teknologi maklumat dan komunikasi yang kini diaplikasikan dalam sistem pendidikan negara. Ini adalah kerana komputer dijadikan sebagai pangkalan data, dapat memberikan maklumat yang dicari atau diminta oleh orang ramai. Perlaksanaan konsep Sekolah Bestari iaitu salah satu contoh aplikasi perdana dalam Koridor Raya Multimedia adalah usaha kerajaan yang berterusan bagi membentuk generasi baru yang mempunyai daya saing dalam era teknologi maklumat dan komunikasi. Sejajar dengan teknologi ICT juga, kerajaan telah menubuhkan sekolah bestari yang telah memperlihatkan kesungguhan Kementerian Pelajaran Malaysia untuk mentransformasikan pendidikan agar bangsa Malaysia abad ke-21 ini bukan sahaja menguasai teknologi maklumat malah berupaya merealisasikan Wawasan 2020. Transformasi ini telah mengubah anjakan paradikma pengajar dan pelajar dalam proses pengajaran dan pembelajaran dalam pendidkan negara khususnya dalam meningkatkan minat pelajar, meningkatkan kreativiti dan pengetahuan pelajar melalui penggunaan teknologi multimedia dan jaringan seluruh dunia.
PENDAHULUAN
PENGAJARAN GURU MURID
Pengajaran dan pembelajaran berpusatkan guru boleh ditakrifkan sebagai pengajaran secara tradisional di mana tugas guru adalah mengajar dan menyampaikan ilmu manakala pelajar mendengar, dan memahami apa yang disampaikan oleh guru . Pengajaran dan pembelajaran ini juga disebut sebagai objektivisme dimana ilmu disampaikan secara terus atau di pindahkan daripada kertas kemudian diterjemahkan semula oleh guru kepada murid secara langsung. pengajaran dan pembelajaranobjektivisme pula adalah merupakan prngajaran yang berpusatkan kepada murid. Pengajaran dan pembelajaran ini disebut konstruktisme dan murid menggunakan segala ilmu pengetahuan dan pengalaman mereka untuk membina pengetahuan yang baharu.
Guru banyak memainkan banyak peranan di dalam pengajaran berpusatkan guru manakala di dalam pengajaran konstruktivisme , guru berperanan hanya sebagai fasilitator, pembimbing dan pemudahcara .
Dalam pengajaran berpusatkan guru, latihan-latihan yang banyak diberikan kepada pelajar bagi mengukuhkan konsep sementara di dalam pengajaran berpusatkan murid, murid mengajukan beberapa soalan yang berkaitan situasi atau masalah yang dihadapi.
Pengajaran berpusatkan guru selalunya dijalankan secara kelas dan individu sementara di dalam pengajaran knstruktivisme, pembelajaran dijalankan secara kumpulan dan murid bebas memberi dan bertukar-tukar idea untuk membina pengetahuan yang baharu.
Pada kesimpulannya, pengajaran dan pembelajaran secara kontruktivisme adalah lebih menarik dan lebih baik daripada pengajaran secara objektivisme. Murid juga akan berasa lebih terhibur, berkeyakinan dan dari segi sosial murid belajar bagaimana untuk berkerjasama dan bertanggung jawab.
Wednesday, 1 May 2013
Masalah sosial remaja terkini dan penyelesaian.
Pengenalan ini terlalu banyak diperkatakan isu yang berkaitan dengan masalah sosial yang melibatkan remaja dan belia khususnya kaum India. Pelbagai andaian, hujah, cadangan, program dan aktiviti bagi menangani masalah sosial ini diutarakan. Perlakuan sosial yang negatif dalam bentuk devian sosial tidak seharusnya merupakan satu petunjuk ke atas kelemahan masyarakat India untuk membudayakan pembangunan secara positif yang berteraskan prinsip dan nilai-nilai murni kemanusiaan. Pengertian masalah sosial Secara umumnya masalah sosial merangkumi berbagai perlakuan negatif anggota masyarakat yang tidak membawa sokongan dan keuntungan kepada kekuatan sistem dan struktur ekonomi yang diamalkan dalam sesuatu masyarakat pun negara. Secara perundangan tidak terdapat definisi yang khusus bagi mengkategorikan remaja. Akta Pekerjaan Kanak-Kanak dan Orang Muda 1996 mentakrifkan seorang kanak-kanak adalah mereka yang berada dalam lingkungan umur 10 hingga 14 tahun. Dalam Akta Pengangkatan 1952, kanak-kanak didefinisikan mereka yang berumur 21 tahun ke bawah. Walaupun setiap akta ini tidak menjelaskan peringkat umur tertentu, secara umumnya dalam membicarakan masalah remaja, golongan remaja yang perlu ditumpukan adalah yang berumur di bawah 21 tahun dan sebahagian besar daripada mereka masih dalam alam persekolahan. Statistik gejala sosial remaja Di Malaysia, remaja merangkumi lebih daripada separuh keseluruhan penduduk. Oleh kerana bilangannya yang ramai, maka masalah yang berkaitan dengan kelompok ini juga banyak. Perlu diingat bahawa gejala sosial ini bukanlah sesuatu yang baru tetapi telah diperhatikan dan cuba ditangani sejak beberapa dekad lalu. Data dan statistik banyak menunjukkan keruntuhan akhlak dalam kalanagan remaja di negara ini adalah semakin serius. Mengikut perangkaan Pihak Berkuasa Jenayah Bukit Aman, antara tahun 1990 dan 1992 sahaja, seramai 37, 602 individu ditahan bagi kesalahan jenayah harta benda serta kekerasan. Daripada jumlah ini, seramai 3450 atau 9.17% adalah remaja dan dalam kalangan remaja yang diberkas pula, kesalahan yang dilakukan boleh dibahagikan kepada jenayah kekerasan dan harta benda. Perangkaan polis menunjukkan, antara kes jenayah yang selalu dilakukan oleh remaja adalah pecah rumah, rusuhan, pergaduhan sesama mereka, salah guna dadah, mencuri basikal atau motosikal. Jenayah yang dilakukan oleh remaja bukan hanya berlaku di kawasan bandar raya atau bandar-bandar besar sahaja, malah di merata tempat di seluruh pelosok negara. Sebagai contoh, di Kedah sahaja, sebanyak 307 kes jenayah berlaku sepanjang tahun 1991. Daripada jumlah itu, 73 kes membabitkan pelajar sekolah. Mengikut pembahagian kaum, seramai 204 kes melibatkan kaum Melayu, 54 remaja Cina dan 47 adalah remaja kaum India. Berdasarkan statistik, kes melibatkan remaja jelas meningkat antara tahun 1990 dan 1992. Pada tahun 1990, sebanyak 657 kes dicatatkan, diikuti 830 kes pada tahun 1991 dan 1487 kes pada tahun 1992. Satu lagi kesalahan yang melibatkan remaja adalah lari atau hilang dari rumah. Pada tahun 1990, terdapat 1578 kes, 1991 (1981 kes), 1992 (2221 kes) dan 1993 (1485 kes). Dari segi jenayah melibatkan bahan berbahaya seperti dadah psikoaktif, antara tahun 1990 dan 1992, daripada jumlah 22912 penagih dadah yang ditahan, 2856 orang (12.46%) adalah remaja. Statistik seterusnya adalah bersabit kesalahan akhlak yang amat serius dari kaca mata masyarakat Malaysia, iaitu perbuatan maksiat dalam kalangan remaja. Menurut kenyataan Kementerian Perpaduan Negara dan Pembanguan Masyarakat, bilangan remaja yang rosak ahklak masih tinggi. Pada tahun 1988, sebanyak 3978 kes dicatatkan, 4111 kes pada tahun 1989, 3763 kes pada tahun 1990 dan sebanyak 2658 kes sehingga bulan Oktober 1991. Satu lagi tabiat remaja yang menampakkan potensi untuk menjadi gejala yang sukar dibendung adalah kegemaran mereka membazir masa. Istilah yang popular digunakan kini adalah 'budaya lepak'. Satu kajian di dua buah rumah pangsa di Kuala Lumpur mendapati sebanyak 90% remaja kaum Cina terus pulang ke rumah selepas sekolah, sebanyak 72% remaja kaum India berbuat demikian dan hanya 5.8% remaja kaum Melayu pulang ke rumah selepas sekolah. Semua perangkaan dan statistik ini menunjukkan bahawa masalah sosial dalam kalangan belia dan remaja tidak hanya tertumpu pada kaum tertentu. Namun, makalah ini seterusnya akan melihat khusus pada belia kaum India. Punca keruntuhan akhlak Daripada data dan statistik yang dibentangkan, terbukti keruntuhan akhlak dalam kalangan remaja masih pada tahap yang tinggi. Keruntuhan akhlak ini dapat dilihat dari pelbagai sudut. Antara punca yang dikenal pasti adalah seperti berikut: 1. Penglibatan dalam jenayah Salah satu faktor yang dikaitkan dengan keruntuhan akhlak remaja adalah penglibatan dalam jenayah. Remaja yang terlibat dalam jenayah bukan sahaja datang daripada keluarga yang miskin tetapi juga keluarga berada, malah segelintir daripada mereka berasal daripada keluarga yang mempunyai latar belakang yang baik. Justeru, bolehlah dikatakan bahawa punca-punca keruntuhan akhlak yang utama adalah kemerosotan dari segi asuhan, didikan, bimbingan serta kawalan oleh ibu bapa atau penjaga. Selain itu, tekanan hidup, sikap mengejar kemewahan serta penglibatan dalam aktiviti sosial lain menyebabkan ibu bapa dan anak kurang mempunyai masa atau kesempatan untuk bercakap, berbincang, berdamping antara satu sama lain. Malah ada yang jarang bersua muka. Keadaan ini menyebabkan remaja kaum India membawa cara hidup sendiri tanpa panduan dan pengawasan ibu bapa. Keluarga yang terlalu mewah cara hidupnya juga menyebabkan keruntuhan disiplin remaja. Sebagai contoh, ibu bapa yang terlalu memanjakan anak-anak kerap memberikan wang saku yang terlalu banyak. Perbuatan ini menyebabkan mereka mudah dipengaruhi oleh remaja lain yang bersuka-suka. Kesan pergaulan bebas dan terpengaruh dengan rakan-rakan sebaya yang rosak akhlak akan memburukkan lagi keadaan. Juga sikap ibu bapa yang tidak mengambil berat tentang kelakukan dan pergaulan anak remaja mendorong pada kerosakkan ahklak. Remaja yang terlalu awal terdedah kepada alam masyarakat yang mempunyai sikap yang kompleks tanpa bimbingan mencukupi daripada ibu bapa juga merupakan salah satu faktor keruntuhan akhlak. Antara punca-punca lain keruntuhan akhlak yang berkaitan dengan hubungan kekeluargaan adalah alam rumah tangga yang tidak teratur, perpisahan ibu bapa, pertengkaran yang kerap berlaku dalam keluarga, keadaan sosioekonomi yang sempit, suasana rumah tangga yang tidak harmonis dan tenteram serta tidak keupayaan pihak penjaga mengawasi pendidikan anak-anaknya boleh juga membawa kepada kancah keruntuhan moral. Justeru, sebagai ibu bapa dan anggota masyarakat yang bertanggungjawab, kaum India seharusnya menjalankan kewajipan dengan merancang aktiviti, mengenal pasti masalah anak, memberi nasihat, pedoman, memberikan kemudahan-kemudahan serta mengawal selia anak sepanjang masa. 2. Persekitaran dan media massa Pengaruh persekitaran, luaran dan media massa juga sentiasa membentuk perilaku para remaja yang masih mentah dalam menghadapi cabaran hidup. Pelbagai dorongan yang kurang sihat dipaparkan melalui persekitaran ini yang seterusnya menyebabkan mereka terikut-ikut dengan pengaruh ini. Lantaran itu untuk memenuhi keinginan ini, mereka merayau-rayau di pusat-pusat membeli-belah, pusat permainan video dan secara tidak langsung terlibat dalam pergaulan bebas. Tidak dapat tidak, filem Tamil terus menjadi salah satu punca keruntuhan moral dalam kalangan remaja kaum India. Memang sering dikatakan bahawa penonton perlu membezakan realiti dan apa yang ditayangkan di layar perak. Namun, secara realiti juga, golongan remaja terbukti terikut-ikut dengan apa yang dipaparkan dalam filem. Kebelakangan ini, filem-filem Tamil tepu dengan unsur ganas, seks dan aksi yang kurang bermoral. Hero filem Tamil sering dipaparkan sebagai individu yang terlibat dalam kegiatan samseng dan pelbagai aktiviti yang bertentangan dengan nilai sosial masyarkat. Merokok juga merupakan satu lagi aksi yang mudah dipelajari oleh remaja kaum India daripada hero filem Tamil. Rajinikanth, misalnya, tidak pernah tidak merokok dengan penuh gaya dalam hampir kesemua filem lakonannya. Laporan akhbar mengatakan bahawa isteri kepada Rajinikanth telah menyelar pihak media kerana gagal mengawal tabiat merokok di kalangan remaja di Tamil Nadu, India. Lalu, wakil media dengan tegas mengatakan bahawa adalah sukar bagi pihak media membendung gejala itu sedangkan Rajinikanth yang menjadi idola remaja terus merokok di layar perak. Maka, dalam perkembangan terkini, Rajinikanth telah mengeluarkan kenyataan bahawa dalam filem-filem akan datang (jika ada), dia tidak akan merokok. Harapan penulis adalah bahawa pelakon-pelakon lain juga akan mengambil keputusan yang sama. Di Malaysia pula, Suhan Panshacharam (Pansha) perlu dipuji kerana beliau sentiasa memastikan watak-watak dalam filem dan drama yang beliau hasilkan (Melayu mahupun Tamil), tidak merokok. Budaya remaja yang dipaparkan dalam filem-filem Tamil juga sangat tidak sesuai dengan budaya kita. Sebuah filem Tamil berjudul Boys memaparkan dialog dan perlakuan remaja yang keterlaluan. Filem berkenaan telah diharamkan di India. Penulis hairan bagaimana filem itu ditayangkan di Malaysia sedangkan mesej, kandungan, dialog dan visual filem itu terbukti jauh lebih membinasakan berbanding filem Bruce Almighty. 3. Sekolah Pengaruh di sekolah juga penting dalam pembentukan akhlak remaja. Tekanan yang dihadapi pelajar semasa di sekolah kerana tumpuan terpaksa diberikan dalam akademik serta guru yang kurang profesional dalam menangani masalah pelajar yang bermasalah akhirnya menyebabkan pelajar mengambil jalan mudah untuk keluar daripada masalah itu dengan terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang kurang sihat. Situasi ini didorong oleh kurang perhatian daripada ibu bapa di rumah. Budaya gangsterisme yang semakin menular di sekolah membuktikan hakikat ini. Tidak dapat dinafikan, remaja kaum India paling ramai terlibat dalam kegiatan tidak bermoral ini. Hadir bersama-sama budaya gangsterime adalah antaranya budaya ponteng sekolah, kaki pukul, peras-ugut, melawan guru, vandalisme, merokok, budaya samseng, kelucahan secara lisan mahu pun perbuatan, kelakuan sumbang, gangguan seksual, hubungan seksual, penagihan dadah dan merogol. Kalau diteliti, kesemua perbuatan tidak bermoral ini saling berkaitan. Kelompok remaja dan pelajar yang terlibat dalam gangsterisme ini pula sering melatih pelajar-pelajar baru untuk menyertai ‘kumpulan’ mereka. Pelajar-pelajar baru pula sama ada akan menyertai kumpulan berkenaan atau menjaid mangsa gangsterisme.
Pengenalan ini terlalu banyak diperkatakan isu yang berkaitan dengan masalah sosial yang melibatkan remaja dan belia khususnya kaum India. Pelbagai andaian, hujah, cadangan, program dan aktiviti bagi menangani masalah sosial ini diutarakan. Perlakuan sosial yang negatif dalam bentuk devian sosial tidak seharusnya merupakan satu petunjuk ke atas kelemahan masyarakat India untuk membudayakan pembangunan secara positif yang berteraskan prinsip dan nilai-nilai murni kemanusiaan. Pengertian masalah sosial Secara umumnya masalah sosial merangkumi berbagai perlakuan negatif anggota masyarakat yang tidak membawa sokongan dan keuntungan kepada kekuatan sistem dan struktur ekonomi yang diamalkan dalam sesuatu masyarakat pun negara. Secara perundangan tidak terdapat definisi yang khusus bagi mengkategorikan remaja. Akta Pekerjaan Kanak-Kanak dan Orang Muda 1996 mentakrifkan seorang kanak-kanak adalah mereka yang berada dalam lingkungan umur 10 hingga 14 tahun. Dalam Akta Pengangkatan 1952, kanak-kanak didefinisikan mereka yang berumur 21 tahun ke bawah. Walaupun setiap akta ini tidak menjelaskan peringkat umur tertentu, secara umumnya dalam membicarakan masalah remaja, golongan remaja yang perlu ditumpukan adalah yang berumur di bawah 21 tahun dan sebahagian besar daripada mereka masih dalam alam persekolahan. Statistik gejala sosial remaja Di Malaysia, remaja merangkumi lebih daripada separuh keseluruhan penduduk. Oleh kerana bilangannya yang ramai, maka masalah yang berkaitan dengan kelompok ini juga banyak. Perlu diingat bahawa gejala sosial ini bukanlah sesuatu yang baru tetapi telah diperhatikan dan cuba ditangani sejak beberapa dekad lalu. Data dan statistik banyak menunjukkan keruntuhan akhlak dalam kalanagan remaja di negara ini adalah semakin serius. Mengikut perangkaan Pihak Berkuasa Jenayah Bukit Aman, antara tahun 1990 dan 1992 sahaja, seramai 37, 602 individu ditahan bagi kesalahan jenayah harta benda serta kekerasan. Daripada jumlah ini, seramai 3450 atau 9.17% adalah remaja dan dalam kalangan remaja yang diberkas pula, kesalahan yang dilakukan boleh dibahagikan kepada jenayah kekerasan dan harta benda. Perangkaan polis menunjukkan, antara kes jenayah yang selalu dilakukan oleh remaja adalah pecah rumah, rusuhan, pergaduhan sesama mereka, salah guna dadah, mencuri basikal atau motosikal. Jenayah yang dilakukan oleh remaja bukan hanya berlaku di kawasan bandar raya atau bandar-bandar besar sahaja, malah di merata tempat di seluruh pelosok negara. Sebagai contoh, di Kedah sahaja, sebanyak 307 kes jenayah berlaku sepanjang tahun 1991. Daripada jumlah itu, 73 kes membabitkan pelajar sekolah. Mengikut pembahagian kaum, seramai 204 kes melibatkan kaum Melayu, 54 remaja Cina dan 47 adalah remaja kaum India. Berdasarkan statistik, kes melibatkan remaja jelas meningkat antara tahun 1990 dan 1992. Pada tahun 1990, sebanyak 657 kes dicatatkan, diikuti 830 kes pada tahun 1991 dan 1487 kes pada tahun 1992. Satu lagi kesalahan yang melibatkan remaja adalah lari atau hilang dari rumah. Pada tahun 1990, terdapat 1578 kes, 1991 (1981 kes), 1992 (2221 kes) dan 1993 (1485 kes). Dari segi jenayah melibatkan bahan berbahaya seperti dadah psikoaktif, antara tahun 1990 dan 1992, daripada jumlah 22912 penagih dadah yang ditahan, 2856 orang (12.46%) adalah remaja. Statistik seterusnya adalah bersabit kesalahan akhlak yang amat serius dari kaca mata masyarakat Malaysia, iaitu perbuatan maksiat dalam kalangan remaja. Menurut kenyataan Kementerian Perpaduan Negara dan Pembanguan Masyarakat, bilangan remaja yang rosak ahklak masih tinggi. Pada tahun 1988, sebanyak 3978 kes dicatatkan, 4111 kes pada tahun 1989, 3763 kes pada tahun 1990 dan sebanyak 2658 kes sehingga bulan Oktober 1991. Satu lagi tabiat remaja yang menampakkan potensi untuk menjadi gejala yang sukar dibendung adalah kegemaran mereka membazir masa. Istilah yang popular digunakan kini adalah 'budaya lepak'. Satu kajian di dua buah rumah pangsa di Kuala Lumpur mendapati sebanyak 90% remaja kaum Cina terus pulang ke rumah selepas sekolah, sebanyak 72% remaja kaum India berbuat demikian dan hanya 5.8% remaja kaum Melayu pulang ke rumah selepas sekolah. Semua perangkaan dan statistik ini menunjukkan bahawa masalah sosial dalam kalangan belia dan remaja tidak hanya tertumpu pada kaum tertentu. Namun, makalah ini seterusnya akan melihat khusus pada belia kaum India. Punca keruntuhan akhlak Daripada data dan statistik yang dibentangkan, terbukti keruntuhan akhlak dalam kalangan remaja masih pada tahap yang tinggi. Keruntuhan akhlak ini dapat dilihat dari pelbagai sudut. Antara punca yang dikenal pasti adalah seperti berikut: 1. Penglibatan dalam jenayah Salah satu faktor yang dikaitkan dengan keruntuhan akhlak remaja adalah penglibatan dalam jenayah. Remaja yang terlibat dalam jenayah bukan sahaja datang daripada keluarga yang miskin tetapi juga keluarga berada, malah segelintir daripada mereka berasal daripada keluarga yang mempunyai latar belakang yang baik. Justeru, bolehlah dikatakan bahawa punca-punca keruntuhan akhlak yang utama adalah kemerosotan dari segi asuhan, didikan, bimbingan serta kawalan oleh ibu bapa atau penjaga. Selain itu, tekanan hidup, sikap mengejar kemewahan serta penglibatan dalam aktiviti sosial lain menyebabkan ibu bapa dan anak kurang mempunyai masa atau kesempatan untuk bercakap, berbincang, berdamping antara satu sama lain. Malah ada yang jarang bersua muka. Keadaan ini menyebabkan remaja kaum India membawa cara hidup sendiri tanpa panduan dan pengawasan ibu bapa. Keluarga yang terlalu mewah cara hidupnya juga menyebabkan keruntuhan disiplin remaja. Sebagai contoh, ibu bapa yang terlalu memanjakan anak-anak kerap memberikan wang saku yang terlalu banyak. Perbuatan ini menyebabkan mereka mudah dipengaruhi oleh remaja lain yang bersuka-suka. Kesan pergaulan bebas dan terpengaruh dengan rakan-rakan sebaya yang rosak akhlak akan memburukkan lagi keadaan. Juga sikap ibu bapa yang tidak mengambil berat tentang kelakukan dan pergaulan anak remaja mendorong pada kerosakkan ahklak. Remaja yang terlalu awal terdedah kepada alam masyarakat yang mempunyai sikap yang kompleks tanpa bimbingan mencukupi daripada ibu bapa juga merupakan salah satu faktor keruntuhan akhlak. Antara punca-punca lain keruntuhan akhlak yang berkaitan dengan hubungan kekeluargaan adalah alam rumah tangga yang tidak teratur, perpisahan ibu bapa, pertengkaran yang kerap berlaku dalam keluarga, keadaan sosioekonomi yang sempit, suasana rumah tangga yang tidak harmonis dan tenteram serta tidak keupayaan pihak penjaga mengawasi pendidikan anak-anaknya boleh juga membawa kepada kancah keruntuhan moral. Justeru, sebagai ibu bapa dan anggota masyarakat yang bertanggungjawab, kaum India seharusnya menjalankan kewajipan dengan merancang aktiviti, mengenal pasti masalah anak, memberi nasihat, pedoman, memberikan kemudahan-kemudahan serta mengawal selia anak sepanjang masa. 2. Persekitaran dan media massa Pengaruh persekitaran, luaran dan media massa juga sentiasa membentuk perilaku para remaja yang masih mentah dalam menghadapi cabaran hidup. Pelbagai dorongan yang kurang sihat dipaparkan melalui persekitaran ini yang seterusnya menyebabkan mereka terikut-ikut dengan pengaruh ini. Lantaran itu untuk memenuhi keinginan ini, mereka merayau-rayau di pusat-pusat membeli-belah, pusat permainan video dan secara tidak langsung terlibat dalam pergaulan bebas. Tidak dapat tidak, filem Tamil terus menjadi salah satu punca keruntuhan moral dalam kalangan remaja kaum India. Memang sering dikatakan bahawa penonton perlu membezakan realiti dan apa yang ditayangkan di layar perak. Namun, secara realiti juga, golongan remaja terbukti terikut-ikut dengan apa yang dipaparkan dalam filem. Kebelakangan ini, filem-filem Tamil tepu dengan unsur ganas, seks dan aksi yang kurang bermoral. Hero filem Tamil sering dipaparkan sebagai individu yang terlibat dalam kegiatan samseng dan pelbagai aktiviti yang bertentangan dengan nilai sosial masyarkat. Merokok juga merupakan satu lagi aksi yang mudah dipelajari oleh remaja kaum India daripada hero filem Tamil. Rajinikanth, misalnya, tidak pernah tidak merokok dengan penuh gaya dalam hampir kesemua filem lakonannya. Laporan akhbar mengatakan bahawa isteri kepada Rajinikanth telah menyelar pihak media kerana gagal mengawal tabiat merokok di kalangan remaja di Tamil Nadu, India. Lalu, wakil media dengan tegas mengatakan bahawa adalah sukar bagi pihak media membendung gejala itu sedangkan Rajinikanth yang menjadi idola remaja terus merokok di layar perak. Maka, dalam perkembangan terkini, Rajinikanth telah mengeluarkan kenyataan bahawa dalam filem-filem akan datang (jika ada), dia tidak akan merokok. Harapan penulis adalah bahawa pelakon-pelakon lain juga akan mengambil keputusan yang sama. Di Malaysia pula, Suhan Panshacharam (Pansha) perlu dipuji kerana beliau sentiasa memastikan watak-watak dalam filem dan drama yang beliau hasilkan (Melayu mahupun Tamil), tidak merokok. Budaya remaja yang dipaparkan dalam filem-filem Tamil juga sangat tidak sesuai dengan budaya kita. Sebuah filem Tamil berjudul Boys memaparkan dialog dan perlakuan remaja yang keterlaluan. Filem berkenaan telah diharamkan di India. Penulis hairan bagaimana filem itu ditayangkan di Malaysia sedangkan mesej, kandungan, dialog dan visual filem itu terbukti jauh lebih membinasakan berbanding filem Bruce Almighty. 3. Sekolah Pengaruh di sekolah juga penting dalam pembentukan akhlak remaja. Tekanan yang dihadapi pelajar semasa di sekolah kerana tumpuan terpaksa diberikan dalam akademik serta guru yang kurang profesional dalam menangani masalah pelajar yang bermasalah akhirnya menyebabkan pelajar mengambil jalan mudah untuk keluar daripada masalah itu dengan terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang kurang sihat. Situasi ini didorong oleh kurang perhatian daripada ibu bapa di rumah. Budaya gangsterisme yang semakin menular di sekolah membuktikan hakikat ini. Tidak dapat dinafikan, remaja kaum India paling ramai terlibat dalam kegiatan tidak bermoral ini. Hadir bersama-sama budaya gangsterime adalah antaranya budaya ponteng sekolah, kaki pukul, peras-ugut, melawan guru, vandalisme, merokok, budaya samseng, kelucahan secara lisan mahu pun perbuatan, kelakuan sumbang, gangguan seksual, hubungan seksual, penagihan dadah dan merogol. Kalau diteliti, kesemua perbuatan tidak bermoral ini saling berkaitan. Kelompok remaja dan pelajar yang terlibat dalam gangsterisme ini pula sering melatih pelajar-pelajar baru untuk menyertai ‘kumpulan’ mereka. Pelajar-pelajar baru pula sama ada akan menyertai kumpulan berkenaan atau menjaid mangsa gangsterisme.
Subscribe to:
Posts (Atom)